Hidup Dalam Kemiskinan { 1 } Tuhan berkata: {Man yattaqillaha yaj’al lahu makhrajan}, {Wa yarzuqhu min haitsu la yahtasibu} “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar darinya”, “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka- sangkanya.” Kisah di bawah ini akan menjelaskan lebih banyak mengenai ayat tersebut: Hidup Dalam Kemiskinan Seorang lelaki dari beberapa sahabat Nabi SAW yang hidup dalam kemiskinan. Dahulu, dia tidak mempunyai pekerjaan yang layak dan kebanyakan waktu- waktunya terbuang secara percuma, akhirnya dia menjadi pengangguran. Suatu hari sang istri berkata kepadanya: Seandainya kamu pergi ketempat
Nabi SAW dan mohonlah bantuan darinya! Lelaki tersebut berangkat ketempat Nabi SAW dengan anjuran sang istri. Sewaktu mata Nabi SAW tertuju kepadanya, beliau berkata: “Man
sa alna a’athainaahu wa manistaghnaa aghnaahullah; Barang siapa yang menginginkan bantuan dari kami, kami akan menolongnya akan tetapi apabila dia tidak menampakkan kebutuhan dan hajatnya, dia tidak akan menengadahkan tangannya kepada orang lain, dan Tuhan akan menjadikan dia tidak butuh kepada orang lain.” Lelaki itu berkata pada dirinya sendiri tentang apa yang di maksud oleh Nabi SAW, dia lalu menebak bahwa maksud Nabi SAW itu adalah dirinya dan tanpa berkata sepatah kata pun, dia kembali ke rumahnya dan mengatakan kepada sang istri tentang peristiwa tersebut. Istrinya berkata: Rasulullah SAW adalah juga manusia dan beliau tidak mengetahui kabar tentang kamu. Beritahukanlah kepada beliau tentang keadaan hidupmu yang malang dan penuh derita! Lelaki tersebut terpaksa untuk yang kedua kalinya datang menemui Rasulullah SAW tetapi sebelum dia sempat berkata sesuatu, Rasulullah SAW mengulangi kembali perkataan sebelumnya. Dia kembali ke rumah tanpa menampakkan sedikitpun hajatnya di depan Nabi SAW tetapi karena dia melihat dirinya masih juga dalam cengkeraman kefakiran dan pengangguran, lemah dan tidak mampu, maka untuk yang ketiga kalinya dengan niat yang sama dia berangkat ke majelis Rasulullah SAW. Bibir Rasulullah SAW bergerak dengan nada yang sama dan memberikan keyakinan kuat pada hati dan ruh, beliau mengulangi kembali ucapannya. Kali ini memberikan keyakinan lebih kuat pada hatinya; dia merasakan bahwa kunci dari masalahnya terdapat pada kalimat ini. Tatkala dia meninggalkan majelis tersebut, dengan langkah-langkah yang pasti dan meyakinkan dia menelusuri jalan. Dia berpikir dengan dirinya sendiri bahwa dirinya tidak akan pergi lagi mencari dan memohon pertolongan kepada orang lain. Saya akan menyandarkan diri saya kepada Tuhan dan saya akan menggunakan kekuatan dan potensi yang telah tersimpan dalam diriku dan saya juga menginginkan dari-Nya agar diberikan keberhasilan dalam pekerjaan saya dan menjadikan saya tidak butuh kepada orang lain. Dengan niat ini, dia mengambil sebuah kapak pinjaman dan berangkat ke padang pasir. Hari itu dia mengumpulkan sejumlah kayu dan menjualnya dan merasakan kelezatan hasil dari jerih payahnya sendiri. Hari-hari berikutnya dia melanjutkan pekerjaan ini sehingga perlahan- lahan mampu menghasilkan pendapatan dan menyediakan kebutuhan hidupnya. Dia masih juga melanjutkan pekerjaannya sehingga dia telah memiliki modal, unta dan beberapa budak. Dia telah menjadi salah satu dari orang-orang kaya, dikarenakan usaha dan upayanya sepanjang hari. Suatu hari dia menemui Rasulullah SAW dan menceritakankan kepada beliau tentang keadaan dirinya bahwa sebagaimana pada hari itu dia datang menemui Rasulullah SAW dalam keadaan malang dan bagaimana ucapan Rasulullah SAW telah mendesak saya untuk bergerak dan bekerja. Rasulullah SAW berkata: Saya telah mengatakan kepadamu; barang siapa yang menginginkan bantuan dari kami, kami akan menolongnya tetapi apabila dia tidak menampakkan ketidakbutuhannya, maka Tuhan akan menolongnya. { 2 } Dari sejumlah metode-metode pendidikan yang banyak di tegaskan oleh Al-Quran adalah memetik hikmah atau ibrah dari sejarah dan nasib bangsa-bangsa
terdahulu. Dalam sebagian ayat- ayat Al-Quran,Tuhan memperdengarkan akan akibat- akibat dari perbuatan mereka dan mengungkap segera amal- amal mereka dan mengingatkan bahwa apabila mereka terpaksa telah bernasib malang maka itu adalah hasil dari perbuatan diri mereka sendiri. Dalam surah Ali Imran di katakan bahwa: {Wa ma dzalamahumullahu wa lakin anfusahum yadzlimun} “Allah tidak menzalimi mereka, tetapi mereka yang menzalimi diri
sendiri.” Imam Ali as juga memperingatkan tentang penggunaan dari kesempatan-kesempatan dan melaksanakan amal-amal yang baik dan mengatakan: Addahru yawman yawmu lak wa yawmu ‘alaika. “Masa dua hari adalah sehari berpihak kepadamu dan hari yang lain adalah kerugianmu.” Nasib Yang Membawa Hikmah Sya’bi mengatakan: Dalam istana
pemerintahan “Abdul Malik Marwan” saya duduk di dekat khalifah Umawi yang membawa kepala terpotong dari “Mas’ab bin Zubair” dan diletakkan di hadapannya yang pada saat itu saya merasa tidak senang dan tegang. Khalifah bertanya: Mengapa engkau begitu kelihatan tidak senang? Saya katakan: Peristiwa yang sangat menakjubkan, di sini juga saya dahulu dekat dengan Ubaidillah bin Ziyad dan saya melihat dia membawa kepala Imam Husain as dan meletakkannya di sisinya dan
setelah beberapa lama kemudian di tempat ini pula saya berkhidmat kepada Mukhtar bin Abi ‘Ubaidah Tsaqafi dan saya melihat bahwa dia membawa kepala Ibnu Ziyad dan berulang kali tidak lama kemudian di tempat ini juga saya melihat kepala Mukhtar di sisi Mas’ab yang juga sekarang saya melihat kepala Mas’ab berada di dekatmu. Setelah mendengar peristiwa ini Abdul Malik menjadi terpengaruh dan tidak senang dan segera dia berdiri dari tempatnya dan memerintahkan agar supaya merusak istana itu dan meratakannya dengan tanah yang mungkin dengan khayalan batilnya dia ingin menghindar dari
takdir Ilahi
moh mauludin,berbagi dalam islam
Senin, 10 Juni 2013
Selasa, 07 Mei 2013
nikmat dan sabar
NIKMAT DAN SABAR. Nikmat adalah karunia Allah swt
yang diberikan kepada semua
mahlukNya. Nikmat-nikmat Allah
swt atas mahlukNya pastilah
sesuai dengan kodratnya masing-
masing. Kenikmatan yang diberikan kepada - manusia
sesuai dengan kodratnya sebagai
manusia, binatang sesuai dengan
kodratnya sebagai binatang,
malaikat sesuai dengan
kodratnya sebagai malaikat dan begitulah yang terjadi pada
mahluk-mahluk Allah yang lain. Nikmat-nikmat Allah swt yang tak
terhingga jumlahnya - yang
senantiasa kita terima haruslah
kita syukuri – sebagaimana
firman Allah swt :
".......ﻦﺌﻟﻭ ﻢﻜﻧ ﺪﻳﺯﻷ ﻢﺗﺮﻜﺷ ﻦﺌﻟ ﺪﻳ ﺪﺸﻟ ﻲﺑﺍﺬﻋ ﻥﺇ ﻢﺗﺮﻔﻛ " “ ...... apabila kamu bersyukur
pasti akan Kami tambah
( nikmat ) kepadamu, jika kamu
mengingkari ( nikmatKu )
sesungguhnya adzabKu sangat
pedih ” ( QS. Ibrohim : 7 ). Pada ayat tersebut mengandung
pemahaman, bahwa kenikmatan
tersebut harus kita syukuri
disamping kenikmatan tersebut
juga akan dimintai pertanggung
jawaban. Setiap kenikmatan haruslah diterapkan sesuai
dengan kodratnya. Misalnya
manusia diberi kenikmatan makan
makanan yang sesuai dengan
kodratnya sebagai manusia.
Apabila manusia rasa nikmatnya makan pada makanan kambing
atau ayam, maka berarti tidak
menggunakan kenikmatannya
sesuai dengan kodratnya. Dan
salah satu bentuk syukur adalah
menggunakan kenikmatan tersebut pada jalan yang
diridloiNya. Maka sebaliknya bila
kenikmatan itu digunakan pada
jalan yang dilarangNya,
merupakan bentuk pengingkaran
atas nikmatNya. Sebagai mahluk Allah swt yang
diciptakan berpasang-pasangan,
kita wajib menjaga dan
menerapkan kenikmatan pada
hal-hal yang diperbolehkan
syari’at yang telah disampaikan melalui baginda Nabi Muhammad
saw. Sering kita mendengar
melalui media tentang adanya
perlakuan-perlakuan yang
menyalahi kodrat dan menyalahi
hukum. Seperti adanya orang- orang yang mendapatkan
kenikmatan di sela-sela
kepadatan manusia di angkutan
umum. Ada juga yang
mendapatkan kenikmatan hanya
dengan yang sejenis, dan masih banyak lagi hal-hal yang
dilakukan secara menyimpang dari
kodrat maupun hukum.
Dibiarkannya seseorang
menikmati kenikmatan yang
menyalahi aturan, dikhawatirkan merupakan adzab Allah swt yang
diturunkan di dunia untuk
menguatkan khujjah ( alasan )
menuju adzab yang abadi di
akherat kelak. Kita sebagai manusia yang tidak
lepas dari hawa nafsu dan
godaan iblis, harus berjuang
untuk mengalahkan segala
ancaman yang akan membawa
kita kepada adzab Allah swt. Maka bersabar adalah jalan
terbaik. Paling tidak, kita harus
bersabar pada tiga hal : a.
Bersabar ketika kita beribadah. b.
Bersabar untuk tidak melakukan
kemaksiatan. c. Bersabar saat mendapat musibah. Bersabar untuk mendapatkan
kenikmatan saat beribadah,
seperti merasakan keledzatan
saat kita berdzikir, saat kita
sholat, puasa dan lain sebagainya.
Seperti dalam satu riwayat menceritakan seseorang yang
merasakan madu di lisannya
ketika dia menbaca al-Qur’an,
sehingga dia tidak mau membaca
al-Qur’an di bulan Romadlon pada
siang hari. Karena ingin merasakan nikmatnya berpuasa. Kemudian bersabar untuk tidak
melakukan maksiat, yakni
berusaha untuk menghindari hal-
hal yang dilarang agama. Juga
sabar dan tawakkal serta
mengembalikan segala sesuatu kepada Allah swt. Karena kita
semua milikNya dan akan kembali
kepadaNya.
yang diberikan kepada semua
mahlukNya. Nikmat-nikmat Allah
swt atas mahlukNya pastilah
sesuai dengan kodratnya masing-
masing. Kenikmatan yang diberikan kepada - manusia
sesuai dengan kodratnya sebagai
manusia, binatang sesuai dengan
kodratnya sebagai binatang,
malaikat sesuai dengan
kodratnya sebagai malaikat dan begitulah yang terjadi pada
mahluk-mahluk Allah yang lain. Nikmat-nikmat Allah swt yang tak
terhingga jumlahnya - yang
senantiasa kita terima haruslah
kita syukuri – sebagaimana
firman Allah swt :
".......ﻦﺌﻟﻭ ﻢﻜﻧ ﺪﻳﺯﻷ ﻢﺗﺮﻜﺷ ﻦﺌﻟ ﺪﻳ ﺪﺸﻟ ﻲﺑﺍﺬﻋ ﻥﺇ ﻢﺗﺮﻔﻛ " “ ...... apabila kamu bersyukur
pasti akan Kami tambah
( nikmat ) kepadamu, jika kamu
mengingkari ( nikmatKu )
sesungguhnya adzabKu sangat
pedih ” ( QS. Ibrohim : 7 ). Pada ayat tersebut mengandung
pemahaman, bahwa kenikmatan
tersebut harus kita syukuri
disamping kenikmatan tersebut
juga akan dimintai pertanggung
jawaban. Setiap kenikmatan haruslah diterapkan sesuai
dengan kodratnya. Misalnya
manusia diberi kenikmatan makan
makanan yang sesuai dengan
kodratnya sebagai manusia.
Apabila manusia rasa nikmatnya makan pada makanan kambing
atau ayam, maka berarti tidak
menggunakan kenikmatannya
sesuai dengan kodratnya. Dan
salah satu bentuk syukur adalah
menggunakan kenikmatan tersebut pada jalan yang
diridloiNya. Maka sebaliknya bila
kenikmatan itu digunakan pada
jalan yang dilarangNya,
merupakan bentuk pengingkaran
atas nikmatNya. Sebagai mahluk Allah swt yang
diciptakan berpasang-pasangan,
kita wajib menjaga dan
menerapkan kenikmatan pada
hal-hal yang diperbolehkan
syari’at yang telah disampaikan melalui baginda Nabi Muhammad
saw. Sering kita mendengar
melalui media tentang adanya
perlakuan-perlakuan yang
menyalahi kodrat dan menyalahi
hukum. Seperti adanya orang- orang yang mendapatkan
kenikmatan di sela-sela
kepadatan manusia di angkutan
umum. Ada juga yang
mendapatkan kenikmatan hanya
dengan yang sejenis, dan masih banyak lagi hal-hal yang
dilakukan secara menyimpang dari
kodrat maupun hukum.
Dibiarkannya seseorang
menikmati kenikmatan yang
menyalahi aturan, dikhawatirkan merupakan adzab Allah swt yang
diturunkan di dunia untuk
menguatkan khujjah ( alasan )
menuju adzab yang abadi di
akherat kelak. Kita sebagai manusia yang tidak
lepas dari hawa nafsu dan
godaan iblis, harus berjuang
untuk mengalahkan segala
ancaman yang akan membawa
kita kepada adzab Allah swt. Maka bersabar adalah jalan
terbaik. Paling tidak, kita harus
bersabar pada tiga hal : a.
Bersabar ketika kita beribadah. b.
Bersabar untuk tidak melakukan
kemaksiatan. c. Bersabar saat mendapat musibah. Bersabar untuk mendapatkan
kenikmatan saat beribadah,
seperti merasakan keledzatan
saat kita berdzikir, saat kita
sholat, puasa dan lain sebagainya.
Seperti dalam satu riwayat menceritakan seseorang yang
merasakan madu di lisannya
ketika dia menbaca al-Qur’an,
sehingga dia tidak mau membaca
al-Qur’an di bulan Romadlon pada
siang hari. Karena ingin merasakan nikmatnya berpuasa. Kemudian bersabar untuk tidak
melakukan maksiat, yakni
berusaha untuk menghindari hal-
hal yang dilarang agama. Juga
sabar dan tawakkal serta
mengembalikan segala sesuatu kepada Allah swt. Karena kita
semua milikNya dan akan kembali
kepadaNya.
Langganan:
Postingan (Atom)