NIKMAT DAN SABAR. Nikmat adalah karunia Allah swt
yang diberikan kepada semua
mahlukNya. Nikmat-nikmat Allah
swt atas mahlukNya pastilah
sesuai dengan kodratnya masing-
masing. Kenikmatan yang diberikan kepada - manusia
sesuai dengan kodratnya sebagai
manusia, binatang sesuai dengan
kodratnya sebagai binatang,
malaikat sesuai dengan
kodratnya sebagai malaikat dan begitulah yang terjadi pada
mahluk-mahluk Allah yang lain. Nikmat-nikmat Allah swt yang tak
terhingga jumlahnya - yang
senantiasa kita terima haruslah
kita syukuri – sebagaimana
firman Allah swt :
".......ﻦﺌﻟﻭ ﻢﻜﻧ ﺪﻳﺯﻷ ﻢﺗﺮﻜﺷ ﻦﺌﻟ ﺪﻳ ﺪﺸﻟ ﻲﺑﺍﺬﻋ ﻥﺇ ﻢﺗﺮﻔﻛ " “ ...... apabila kamu bersyukur
pasti akan Kami tambah
( nikmat ) kepadamu, jika kamu
mengingkari ( nikmatKu )
sesungguhnya adzabKu sangat
pedih ” ( QS. Ibrohim : 7 ). Pada ayat tersebut mengandung
pemahaman, bahwa kenikmatan
tersebut harus kita syukuri
disamping kenikmatan tersebut
juga akan dimintai pertanggung
jawaban. Setiap kenikmatan haruslah diterapkan sesuai
dengan kodratnya. Misalnya
manusia diberi kenikmatan makan
makanan yang sesuai dengan
kodratnya sebagai manusia.
Apabila manusia rasa nikmatnya makan pada makanan kambing
atau ayam, maka berarti tidak
menggunakan kenikmatannya
sesuai dengan kodratnya. Dan
salah satu bentuk syukur adalah
menggunakan kenikmatan tersebut pada jalan yang
diridloiNya. Maka sebaliknya bila
kenikmatan itu digunakan pada
jalan yang dilarangNya,
merupakan bentuk pengingkaran
atas nikmatNya. Sebagai mahluk Allah swt yang
diciptakan berpasang-pasangan,
kita wajib menjaga dan
menerapkan kenikmatan pada
hal-hal yang diperbolehkan
syari’at yang telah disampaikan melalui baginda Nabi Muhammad
saw. Sering kita mendengar
melalui media tentang adanya
perlakuan-perlakuan yang
menyalahi kodrat dan menyalahi
hukum. Seperti adanya orang- orang yang mendapatkan
kenikmatan di sela-sela
kepadatan manusia di angkutan
umum. Ada juga yang
mendapatkan kenikmatan hanya
dengan yang sejenis, dan masih banyak lagi hal-hal yang
dilakukan secara menyimpang dari
kodrat maupun hukum.
Dibiarkannya seseorang
menikmati kenikmatan yang
menyalahi aturan, dikhawatirkan merupakan adzab Allah swt yang
diturunkan di dunia untuk
menguatkan khujjah ( alasan )
menuju adzab yang abadi di
akherat kelak. Kita sebagai manusia yang tidak
lepas dari hawa nafsu dan
godaan iblis, harus berjuang
untuk mengalahkan segala
ancaman yang akan membawa
kita kepada adzab Allah swt. Maka bersabar adalah jalan
terbaik. Paling tidak, kita harus
bersabar pada tiga hal : a.
Bersabar ketika kita beribadah. b.
Bersabar untuk tidak melakukan
kemaksiatan. c. Bersabar saat mendapat musibah. Bersabar untuk mendapatkan
kenikmatan saat beribadah,
seperti merasakan keledzatan
saat kita berdzikir, saat kita
sholat, puasa dan lain sebagainya.
Seperti dalam satu riwayat menceritakan seseorang yang
merasakan madu di lisannya
ketika dia menbaca al-Qur’an,
sehingga dia tidak mau membaca
al-Qur’an di bulan Romadlon pada
siang hari. Karena ingin merasakan nikmatnya berpuasa. Kemudian bersabar untuk tidak
melakukan maksiat, yakni
berusaha untuk menghindari hal-
hal yang dilarang agama. Juga
sabar dan tawakkal serta
mengembalikan segala sesuatu kepada Allah swt. Karena kita
semua milikNya dan akan kembali
kepadaNya.